Thursday, October 11, 2012

Apakah posesif itu tanda cinta?

Ilustrasi dok: Thinkstock

yahoo.com - Apakah kekasih atau suami Anda selalu memiliki rasa ingin tahu soal aktivitas keseharian? Misalnya, ia selalu melontarkan banyak pertanyaan secara detail, dari mana, pergi sama siapa, ngapain saja, jam berapa, dan pertanyaan sejenis yang mengganggu telinga.

Jika iya, boleh jadi pasangan Anda termasuk tipe yang posesif.

“Posesif adalah suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk mengontrol atau mendominasi sesuatu atau seseorang. Atau, sikap membatasi ruang gerak seseorang, biasanya terhadap pasangan,” kata Psikolog dari Universitas Islam Bandung, Ice Shofiyyatulloh.

Ciri-ciri orang posesif di antaranya selalu memiliki rasa ingin tahu aktivitas pasangan, dan selalu melontarkan banyak pertanyaan yang bisa membuat pasangan merasa terinterogasi.

“Pasangan juga cenderung banyak mengatur, membatasi ruang gerak Anda hingga tidak memiliki kebebasan bersikap, bertindak, berkehendak dan berperilaku,” tambah Konsultan Psikolog di Panti Rehabilitasi Narkoba Inabah II Putri Panjalu, Ciamis, Jawa Barat itu.

Posesif juga ditandai dengan sikap cemburu amat tinggi. Sehingga, tidak boleh ada orang lain dalam kehidupan pasangan, kecuali dirinya.

Ice menuturkan, sikap posesif bisa muncul karena takut kehilangan pasangan yang dicintainya. Bisa juga muncul karena rasa cinta yang teramat besar hingga berkembang ke arah rasa ingin memiliki. “Rasa ingin memiliki yang terlalu besar itulah yang berkembang menjadi posesif,” ujarnya.

Potensi perilaku posesif biasanya muncul di awal membina hubungan, baik pacaran atau pernikahan. Ini sebetulnya sebagai bentuk rasa mencintai, tetapi reaksinya berlebihan karena takut kehilangan.

“Orang bisa menjadi sangat posesif apabila dalam dirinya memiliki rasa kurang percaya diri. Ia merasa takut dan khawatir apa yang dimilikinya akan hilang dan menjadi milik orang lain,” jelas Ice.

Sikap posesif, tambah dia, bisa juga terjadi akibat trauma masa lalu. Misalnya, pernah mengalami kegagalan membangun hubungan, sehingga ia cenderung membuat aturan sendiri ketika membina hubungan baru.

Kesenjangan sosial, ekonomi, maupun fisik bisa juga menyebabkan sikap posesif. Ambil contoh, memiliki pasangan yang jabatannya lebih tinggi, gajinya lebih besar, atau secara fisik pasangan jauh lebih sempurna dibandingkan dirinya.

“Orang posesif pasti mengaku sangat mencintai pasangannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa posesif itu bentuk rasa cinta pada pasangan,” kata Ice. Hanya saja, rasa cinta yang dimiliki telah membelenggunya pada ketidakbebasan.

Padahal cinta dan kebebasan adalah dua hal yang harus saling melengkapi. Cinta tanpa kebebasan justru membawa kesengsaraan. “Orang posesif telah menciptakan belenggu untuk dirinya sendiri juga bagi orang lain. Cinta demikian tak akan membawa kebahagiaan, dia juga tak merasa nyaman, damai dan tentram,” katanya.
Tidak sedikit sikap posesif berujung pada hancurnya sebuah hubungan.

“Sebenarnya hanya Tuhan yang berhak untuk memiliki hak posesif itu, di mana kita mesti mengikuti aturan-aturan-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta wajib menyembah-Nya. Bila tidak, maka kita akan mendapat ganjaran-Nya,” tandas psikolog berbusana muslimah ini.

Bisakah mengubah pasangan agar tidak posesif?

Ice berpendapat, sikap itu masih bisa diatasi. Sikap posesif harus diturunkan perlahan-lahan hingga memasuki katagori ‘wajar’.

Berikut tips untuk mengatasi pasangan posesif seperti disarankan Ice.

1. Bagaimana pun posesifnya pasangan, dia adalah pilihan kita. Maka penting untuk mengajaknya menyadari bahwa dia memiliki sikap posesif, tanpa harus mendakwa atau mengadilinya.

2. Buatlah dia sadar bahwa sikapnya telah membuat pasangan tidak nyaman, dan memintanya bertekat mengubah sikap.

3. Mengingatkan pasangan bila dia mengulang sikapnya.

4. Membangun komunikasi yang baik dan intensif didasari sebuah komitmen untuk saling percaya.


Lalu, bagi mereka yang menyadari sebagai orang posesif, berikut tipsnya untuk menanggulangi sikapnya:

- Rasa cinta yang besar, perhatian yang besar, rasa ingin melindungi yang tinggi dan selalu khawatir terhadap pasangan memang sangat  baik. Namun, bila itu dicurahkan secara berlebihan melewati batas kontrol, efeknya buruk baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

- Coba pikirkan, kira-kira aspek apa yang membuat diri kita merasa kurang percaya diri, sehingga seringkali dihantui ketakutan. Mulailah untuk meng-up grade diri dengan menambah kegiatan-kegiatan positif, membaca buku-buku positif, dan bergaul dengan orang-orang positif baik di lingkungan sosial maupun agama. Ini akan menambah wawasan dan akan memagari kita untuk tetap berpikiran positif.

No comments:

Post a Comment